Palu, KemenP2MI – (20/5) Balai Pelayanan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (BP3MI) Sulawesi Tengah bersama Bank Indonesia (BI) Perwakilan Sulawesi Tengah dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) terus memperkuat sinergi dalam mendukung Gerakan Nasional Migran Aman melalui kegiatan Sosialisasi Pelindungan Konsumen dan Keuangan Digital yang digelar di Sriti Convention Hall, pada Selasa 19/05/2026.
Kegiatan ini menghadirkan berbagai unsur perempuan dan organisasi masyarakat sebagai peserta, di antaranya PKK Kota Palu, Jalasenastri, Kowal PNS TNI AL, Bhayangkari Polda Sulawesi Tengah, Ikatan Wanita Bank (IWABA), Persatuan Istri Pegawai Bank Indonesia (PIPEBI), hingga perwakilan perbankan di Kota Palu. Kehadiran berbagai elemen tersebut menjadi bukti bahwa pelindungan pekerja migran dan literasi digital merupakan tanggung jawab bersama lintas sektor.
Acara diawali dengan sambutan Ketua TP PKK Kota Palu, Diah Puspita, yang mengapresiasi kolaborasi antarinstansi dalam memberikan edukasi kepada masyarakat, khususnya perempuan, terkait pentingnya memahami keamanan digital dan pengelolaan keuangan keluarga secara bijak.
Sambutan berikutnya disampaikan oleh Kepala OJK Sulawesi Tengah, Bonny Hardi Putra, yang menekankan pentingnya perlindungan konsumen di tengah pesatnya perkembangan layanan keuangan digital.
“Kemudahan layanan digital harus diimbangi dengan kewaspadaan masyarakat agar tidak menjadi korban penipuan online, investasi ilegal, maupun penyalahgunaan data pribadi,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala BP3MI Sulawesi Tengah, Mustaqim, dalam sambutannya menyampaikan bahwa Kementerian Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (Kementerian P2MI) bersama stakeholder terkait telah melaksanakan Launching Gerakan Nasional Migran Aman sebagai langkah penguatan pelindungan pekerja migran Indonesia secara kolaboratif.
Menurutnya, transformasi digital membawa banyak kemudahan, namun juga menghadirkan tantangan baru yang harus diantisipasi bersama, khususnya terkait keamanan data pribadi dan maraknya praktik penempatan pekerja migran secara ilegal atau unprosedural.
“Pekerja migran dan keluarganya perlu dibekali pemahaman mengenai keamanan digital, pelindungan data pribadi, serta literasi keuangan agar terhindar dari berbagai modus penipuan dan praktik penempatan nonprosedural,” jelasnya.
Dalam kesempatan tersebut, Kepala BP3MI Sulawesi Tengah, Mustaqim, juga mengajak seluruh peserta untuk menjadi bagian dari Gerakan Nasional Migran Aman dengan turut menyebarluaskan informasi mengenai migran aman di lingkungan masing-masing.
“Kami memohon dukungan dari seluruh peserta agar bersama-sama membantu menyosialisasikan pentingnya bekerja ke luar negeri melalui jalur resmi serta menolak segala bentuk penempatan pekerja migran Indonesia secara ilegal atau unprosedural yang berpotensi terjadinya Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO),” tegas Mustaqim.
Kegiatan kemudian secara resmi dibuka oleh Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sulawesi Tengah, Muhamad Irfan Sukarna. Dalam sambutannya, ia menyampaikan bahwa penguatan literasi keuangan digital harus dilakukan secara kolaboratif agar masyarakat semakin siap menghadapi perkembangan teknologi keuangan.
“Digitalisasi memberikan peluang besar bagi masyarakat, namun di sisi lain juga menuntut kesiapan dalam memahami risiko-risiko digital. Melalui kegiatan ini, kami ingin mendorong masyarakat menjadi lebih cerdas, aman, dan bijak dalam menggunakan layanan keuangan digital,” ungkapnya.
Pada sesi pemaparan materi, Kristoforus Ronald dari Bank Indonesia Perwakilan Sulawesi Tengah membawakan materi bertajuk Perempuan PeKa Keluarga Bahagia dan Cinta Bangga Paham Rupiah. Dalam materinya, peserta diajak memahami pentingnya peran perempuan dalam menjaga stabilitas ekonomi keluarga serta meningkatkan kesadaran untuk mencintai dan memahami rupiah.
Materi kedua disampaikan oleh Imam selaku perwakilan OJK Provinsi Sulawesi Tengah terkait peran OJK sebagai lembaga negara yang bertugas mengatur, mengawasi, dan melindungi konsumen di sektor jasa keuangan. Peserta juga diberikan pemahaman mengenai bahaya pinjaman online ilegal, investasi bodong, serta pentingnya menjaga keamanan transaksi digital.
Sementara itu, materi terkait tata kelola Pelindungan Pekerja Migran Indonesia disampaikan oleh Merli Nancy Riga sebagai perwakilan dari BP3MI Sulawesi Tengah dengan tema Migran Aman: Lindungi Data, Lindungi Diri. Dalam pemaparannya, Merli menyoroti pentingnya kesadaran pekerja migran terhadap perlindungan data pribadi di era digital.
“Banyak kasus penipuan pekerja migran bermula dari penyalahgunaan data pribadi. Karena itu, masyarakat harus lebih berhati-hati dalam membagikan identitas diri, dokumen pribadi, maupun informasi rekening kepada pihak yang tidak jelas,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan pentingnya memastikan seluruh proses penempatan dilakukan melalui jalur resmi dan prosedural.
“Calon pekerja migran harus memastikan informasi lowongan kerja berasal dari sumber terpercaya. Jangan mudah tergiur janji gaji besar tanpa kejelasan proses penempatan,” tegas Merli.
Kegiatan kemudian ditutup dengan sesi tanya jawab yang berlangsung interaktif antara peserta dan para narasumber. Antusiasme peserta terlihat dari berbagai pertanyaan mengenai keamanan transaksi digital, perlindungan data pribadi, hingga prosedur aman bekerja ke luar negeri.
Melalui kegiatan ini, BP3MI Sulawesi Tengah bersama Bank Indonesia dan OJK berharap masyarakat semakin memahami pentingnya literasi digital dan keuangan sebagai bagian dari upaya menciptakan pekerja migran Indonesia yang aman, cerdas, dan terlindungi di era digital.** Humas BP3MI/Sulawesi Tengah.
Komentar
Posting Komentar