Dari Yordania ke Kayumalue Ngapa: Zuidar Menenun Harapan dari Rotan dan Keteguhan

 



Palu, KP2MI (08/06) Di sudut Kelurahan Kayumalue Ngapa, Kecamatan Palu Utara, suara rotan yang dianyam terdengar berirama. Tangan-tangan perempuan bergerak lincah membentuk tudung saji, keranjang, dan berbagai kerajinan yang kini menjadi kebanggaan masyarakat setempat. Di antara mereka, duduk seorang perempuan bernama Zuidar, sosok yang membuktikan bahwa perjalanan merantau dapat berakhir bukan hanya dengan tabungan, tetapi juga dengan lahirnya harapan baru bagi banyak orang.

Tidak banyak yang menyangka bahwa sentra kerajinan Rotan Madamba yang kini dikenal luas berawal dari kisah seorang ibu yang pernah meninggalkan kampung halaman demi masa depan anak-anaknya. Ia menjadi Pekerja Migran Indonesia.

Dua puluh tahun silam, kehidupan Zuidar jauh dari kata mudah. Rumah yang ditempatinya masih berupa pondok sederhana, sementara kebutuhan keluarga terus bertambah seiring anak-anak yang mulai bersekolah. Di tengah keterbatasan itu, ia mengambil keputusan besar yang mengubah arah hidupnya menjadi pekerja migran di Yordania.
Keputusan tersebut tidak datang tanpa air mata. Orang tuanya sempat menolak karena anak-anaknya masih kecil. Namun tekad Zuidar sudah bulat.

“Awalnya orang tua tidak mengizinkan. Tapi saya ingin membantu keluarga. Saya pamit kepada suami, dan beliau hanya berpesan, ‘Kalau sampai di sana, kerja yang betul’,” kenangnya.
Tahun 2006, ia berangkat meninggalkan Palu menuju Yordania. Di negeri yang jauh dari kampung halamannya itu, Zuidar bekerja sebagai pekerja rumah tangga. Selama lima tahun, ia bertahan pada satu majikan tanpa pernah berpindah tempat kerja.

Pengalaman di Timur Tengah tidak hanya memberinya penghasilan, tetapi juga pelajaran hidup. Ia belajar tentang disiplin, tanggung jawab, dan pentingnya menghargai setiap kesempatan. Ia juga mengenal budaya baru yang berbeda dengan kehidupan sehari-harinya di Sulawesi Tengah.
Meski sesekali tersenyum mengenang pizza, burger, dan berbagai makanan yang dulu terasa asing di lidahnya, tujuan utama Zuidar tetap sama mengumpulkan modal untuk masa depan keluarga.

Pada 2011, ia memutuskan pulang. Namun, kepulangan tidak serta-merta mengubah keadaan. Seperti banyak purna pekerja migran lainnya, Zuidar harus memulai kembali dari bawah. Ia menjual kacang yang dititipkan di kios-kios sekitar untuk menambah penghasilan keluarga.

Hingga suatu hari pada tahun 2016, kesempatan baru datang. BP3MI Sulawesi Tengah mengajak sepuluh purna pekerja migran mengikuti pelatihan anyaman rotan selama satu minggu. Bagi sebagian orang, pelatihan itu mungkin hanya kegiatan biasa. Namun, bagi Zuidar, itulah titik balik kehidupan.

Bersama sembilan rekannya, ia belajar mengolah rotan menjadi produk kerajinan. Setelah pelatihan selesai, mereka sepakat mengumpulkan modal secara patungan.
Masing-masing menyisihkan Rp25 ribu, Total modal mereka saat itu hanya Rp250 ribu. Dana sederhana itu digunakan untuk membeli rotan dan gunting. Hasil pertama yang mereka buat jauh dari sempurna.

“Awalnya hasil anyaman kami masih mencong-mencong dan belum rapi,” ujarnya sambil tertawa.

Tetapi mereka tidak menyerah. Dua bulan kemudian, pelatihan lanjutan kembali digelar. Kesempatan itu dimanfaatkan sebaik-baiknya. Keterampilan mereka terus berkembang hingga akhirnya pada 2017 kelompok tersebut memperoleh bantuan bahan baku dan peralatan dari Dinas Perindustrian.

Perlahan, sebuah kelompok usaha lahir. Mereka menamainya Rotan Madamba. Awalnya, kegiatan produksi dilakukan di rumah Ketua RT setempat. Seiring waktu, aktivitas usaha dipindahkan ke rumah Zuidar dan berkembang menjadi sentra kerajinan yang melibatkan banyak anggota serta dikenal oleh masyarakat luas.
Dalam perjalanan itu, dukungan BP3MI Sulawesi Tengah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari tumbuhnya kelompok usaha tersebut.

“Peran BP3MI sangat berpengaruh karena dari BP3MI yang membesarkan nama Madamba sampai nama kami dikenal banyak orang,” katanya.

Meski demikian, jalan menuju keberhasilan tidak selalu mulus. Tantangan terbesar datang ketika kelompok mereka mulai menerima pesanan dalam jumlah besar. Salah satu momen yang paling membekas adalah saat menerima pesanan 100 tudung saji sekaligus. Pesanan itu menjadi ujian sekaligus peluang. Seluruh anggota turun tangan. Setiap orang mendapatkan bagian pekerjaan sesuai kemampuan masing-masing. Dari satu kilogram rotan dapat dihasilkan satu tudung saji dengan keuntungan bersih sekitar Rp50 ribu.

Pesanan tersebut bukan hanya menghasilkan keuntungan, tetapi juga membangun kepercayaan diri bahwa usaha mereka mampu bersaing dan berkembang. Sejak saat itu, Rotan Madamba terus bertumbuh. Bagi Zuidar, keberhasilan kelompok bukan semata soal omzet atau jumlah pesanan. Yang lebih penting adalah terciptanya ruang bagi para perempuan, khususnya purna pekerja migran, untuk terus berkarya dan memperoleh penghasilan. Prinsip itulah yang membuatnya selalu mengedepankan musyawarah dalam setiap keputusan. 

“Kalau ada pesanan, saya selalu tanya dulu ke teman-teman, sanggup atau tidak. Jadi keputusan bukan dari saya sendiri,” tuturnya.

Pengalaman lima tahun bekerja di luar negeri ternyata membentuk cara pandangnya dalam memimpin. Disiplin, tanggung jawab, dan kerja sama yang ia pelajari di Yordania kini menjadi fondasi dalam mengembangkan kelompok usaha yang dipimpinnya. Hari ini, Zuidar memandang kesuksesan dengan cara yang sederhana. Bukan tentang berapa banyak uang yang berhasil dikumpulkan, melainkan seberapa besar manfaat yang dapat diberikan kepada orang lain.
“Alhamdulillah, sekarang cukup dan bisa membantu teman-teman juga,” ujarnya penuh syukur.

Kepada para pekerja migran yang masih berada di luar negeri maupun yang akan segera pulang ke Indonesia, ia menitipkan pesan agar setiap hasil kerja keras digunakan sebagai modal membangun masa depan. “Kalau sudah pulang, gunakan modal yang ada untuk usaha. Jangan habis begitu saja,” pesannya.

Kini, dari sebuah modal patungan yang nilainya bahkan tak sampai harga sebuah telepon genggam, Zuidar bersama rekan-rekannya berhasil membangun usaha yang menjadi kebanggaan warga Palu Utara.

Anyaman-anyaman rotan yang tersusun rapi di Kayumalue Ngapa bukan sekadar produk kerajinan. Di dalamnya terjalin kisah tentang keberanian meninggalkan rumah, keteguhan menghadapi kesulitan, dan keyakinan bahwa setiap perjalanan pulang selalu membawa kemungkinan baru. Dari Yordania hingga Kayumalue Ngapa, Zuidar telah membuktikan bahwa mimpi tidak berhenti ketika seseorang kembali ke tanah air. Justru di kampung halaman itulah, ia menenun harapan-harapan baru satu helai rotan, satu karya, dan satu kehidupan yang diberdayakan pada satu waktu.*Humas BP3MI Sulawesi Tengah

Komentar