Palu, KP2MI (08/06) Di sudut Kelurahan Kayumalue Ngapa, Kecamatan Palu Utara, suara rotan yang dianyam terdengar berirama. Tangan-tangan perempuan bergerak lincah membentuk tudung saji, keranjang, dan berbagai kerajinan yang kini menjadi kebanggaan masyarakat setempat. Di antara mereka, duduk seorang perempuan bernama Zuidar, sosok yang membuktikan bahwa perjalanan merantau dapat berakhir bukan hanya dengan tabungan, tetapi juga dengan lahirnya harapan baru bagi banyak orang.
Tidak banyak yang menyangka bahwa sentra kerajinan Rotan Madamba yang kini dikenal luas berawal dari kisah seorang ibu yang pernah meninggalkan kampung halaman demi masa depan anak-anaknya. Ia menjadi Pekerja Migran Indonesia.
Pada 2011, ia memutuskan pulang. Namun, kepulangan tidak serta-merta mengubah keadaan. Seperti banyak purna pekerja migran lainnya, Zuidar harus memulai kembali dari bawah. Ia menjual kacang yang dititipkan di kios-kios sekitar untuk menambah penghasilan keluarga.
Hingga suatu hari pada tahun 2016, kesempatan baru datang. BP3MI Sulawesi Tengah mengajak sepuluh purna pekerja migran mengikuti pelatihan anyaman rotan selama satu minggu. Bagi sebagian orang, pelatihan itu mungkin hanya kegiatan biasa. Namun, bagi Zuidar, itulah titik balik kehidupan.
“Awalnya hasil anyaman kami masih mencong-mencong dan belum rapi,” ujarnya sambil tertawa.
Tetapi mereka tidak menyerah. Dua bulan kemudian, pelatihan lanjutan kembali digelar. Kesempatan itu dimanfaatkan sebaik-baiknya. Keterampilan mereka terus berkembang hingga akhirnya pada 2017 kelompok tersebut memperoleh bantuan bahan baku dan peralatan dari Dinas Perindustrian.
“Peran BP3MI sangat berpengaruh karena dari BP3MI yang membesarkan nama Madamba sampai nama kami dikenal banyak orang,” katanya.
Meski demikian, jalan menuju keberhasilan tidak selalu mulus. Tantangan terbesar datang ketika kelompok mereka mulai menerima pesanan dalam jumlah besar. Salah satu momen yang paling membekas adalah saat menerima pesanan 100 tudung saji sekaligus. Pesanan itu menjadi ujian sekaligus peluang. Seluruh anggota turun tangan. Setiap orang mendapatkan bagian pekerjaan sesuai kemampuan masing-masing. Dari satu kilogram rotan dapat dihasilkan satu tudung saji dengan keuntungan bersih sekitar Rp50 ribu.
Pesanan tersebut bukan hanya menghasilkan keuntungan, tetapi juga membangun kepercayaan diri bahwa usaha mereka mampu bersaing dan berkembang. Sejak saat itu, Rotan Madamba terus bertumbuh. Bagi Zuidar, keberhasilan kelompok bukan semata soal omzet atau jumlah pesanan. Yang lebih penting adalah terciptanya ruang bagi para perempuan, khususnya purna pekerja migran, untuk terus berkarya dan memperoleh penghasilan. Prinsip itulah yang membuatnya selalu mengedepankan musyawarah dalam setiap keputusan.
“Kalau ada pesanan, saya selalu tanya dulu ke teman-teman, sanggup atau tidak. Jadi keputusan bukan dari saya sendiri,” tuturnya.
Kepada para pekerja migran yang masih berada di luar negeri maupun yang akan segera pulang ke Indonesia, ia menitipkan pesan agar setiap hasil kerja keras digunakan sebagai modal membangun masa depan. “Kalau sudah pulang, gunakan modal yang ada untuk usaha. Jangan habis begitu saja,” pesannya.
Kini, dari sebuah modal patungan yang nilainya bahkan tak sampai harga sebuah telepon genggam, Zuidar bersama rekan-rekannya berhasil membangun usaha yang menjadi kebanggaan warga Palu Utara.
Anyaman-anyaman rotan yang tersusun rapi di Kayumalue Ngapa bukan sekadar produk kerajinan. Di dalamnya terjalin kisah tentang keberanian meninggalkan rumah, keteguhan menghadapi kesulitan, dan keyakinan bahwa setiap perjalanan pulang selalu membawa kemungkinan baru. Dari Yordania hingga Kayumalue Ngapa, Zuidar telah membuktikan bahwa mimpi tidak berhenti ketika seseorang kembali ke tanah air. Justru di kampung halaman itulah, ia menenun harapan-harapan baru satu helai rotan, satu karya, dan satu kehidupan yang diberdayakan pada satu waktu.*Humas BP3MI Sulawesi Tengah
Komentar
Posting Komentar