Menembus Jarak Ribuan Kilometer Dari Negeri Gurun Arab Saudi, Marwia Akhirnya Kembali Ke Pelukan Keluarga

 


Sigi, KP2MI (15/6) – Minggu pagi itu menjadi hari yang tak akan mudah dilupakan oleh keluarga Marwia Mambani Halim. Setelah menempuh perjalanan panjang dari Arab Saudi, perempuan asal Desa Sidondo II, Kecamatan Sigi Biromaru, Kabupaten Sigi, akhirnya kembali menginjakkan kaki di tanah kelahirannya. Pesawat Super Airjet IU 254 yang membawanya mendarat di Bandara Mutiara.

Sis Al-Jufri Palu pada pukul 09.50 WITA. Di balik kedatangannya tersimpan kisah panjang seorang pekerja migran Indonesia yang telah meninggalkan kampung halaman demi mencari penghidupan di negeri orang. Hari itu, perjalanan yang penuh penantian akhirnya bermuara pada satu tujuan pulang.

Setelah tiba di Palu, Marwia difasilitasi untuk kembali ke kampung halamannya oleh BP3MI Sulawesi Tengah. Perjalanan menuju Desa Sidondo II tidak sekadar
menjadi proses pemulangan, tetapi juga simbol hadirnya negara dalam memberikan pelindungan kepada warganya yang bekerja di luar negeri. Setibanya di desa, Marwia diserahterimakan kepada keluarganya dengan disaksikan oleh Perwakilan Disnakertrans Provinsi Sulawesi Tengah, Disnakertrans Kabupaten Sigi, serta pemerintah desa.

Suasana haru menyelimuti momen tersebut. Setelah sekian lama terpisah oleh jarak ribuan kilometer, Marwia akhirnya kembali berada di tengah keluarganya.
Bagi keluarganya, kepulangan itu menjadi jawaban atas doa dan penantian yang selama ini dipanjatkan.

Tim Pelindungan BP3MI Sulawesi Tengah, Maxmillian Lolong, menegaskan bahwa pemulangan ini merupakan bagian dari komitmen negara dalam memastikan pekerja migran Indonesia memperoleh pelindungan hingga kembali ke daerah asalnya. " Kami memastikan Pekerja Migran Indonesia yang telah kembali dari luar negeri dapat tiba dengan selamat hingga ke keluarganya. Kehadiran negara tidak berhenti saat mereka bekerja di luar negeri, tetapi juga saat mereka kembali ke
tanah air. Ini adalah bentuk nyata pelindungan yang harus terus kita hadirkan, " ujar Maxmillian.

Hal senada disampaikan Muin Mursalin selaku Kepala Bidang Penempatan Tenaga Kerja dan Perluasan Kesempatan Kerja Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kab. Sigi. Menurutnya, pemulangan pekerja migran juga menjadi momentum penting untuk meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai migrasi yang aman dan prosedural. "Kami tidak hanya memfasilitasi kepulangan Pekerja Migran Indonesia, tetapi juga memberikan edukasi kepada keluarga dan masyarakat agar memahami risiko bekerja ke luar negeri secara nonprosedural. Migrasi aman harus menjadi pilihan utama agar masyarakat terhindar dari berbagai permasalahan di kemudian hari," kata Muin.

Dalam kesempatan tersebut, BP3MI Sulawesi Tengah turut memberikan sosialisasi kepada keluarga Marwia mengenai pentingnya mengikuti prosedur resmi sebelum bekerja ke luar negeri. Edukasi itu diberikan sebagai langkah pencegahan agar masyarakat tidak mudah tergiur oleh tawaran kerja yang tidak
jelas dan berpotensi merugikan.

Kepala Desa Sidondo II, Suwardin, menyambut baik upaya yang dilakukan BP3MI Sulawesi Tengah. Ia berkomitmen untuk menjadi perpanjangan tangan
pemerintah dalam menyebarluaskan informasi mengenai tata cara bekerja ke luar negeri yang aman dan sesuai aturan. "Kami siap mendukung dan
menyampaikan kepada masyarakat Desa Sidondo II agar lebih berhati-hati serta memilih jalur yang resmi apabila ingin bekerja ke luar negeri. Keselamatan dan
pelindungan warga harus menjadi prioritas bersama," tegas Suwardin.

Kisah kepulangan Marwia Mambani Halim menjadi pengingat bahwa di balik setiap perjalanan pekerja migran Indonesia, terdapat harapan, pengorbanan, dan
kerinduan yang besar kepada keluarga. Namun lebih dari itu, kisah ini juga menegaskan pentingnya bekerja ke luar negeri melalui jalur yang prosedural
agar setiap warga negara mendapatkan pelindungan yang layak sejak berangkat, selama bekerja, hingga kembali pulang ke kampung halaman.** (Humas/BP3MI Sulawesi Tengah)

Komentar