Palu, KP2MI (15/6) - Pagi itu, langit Palu masih berwarna abu-abu. Hujan yang turun sejak tengah malam meninggalkan jejak berupa udara yang sejuk dan landasan basah di Bandara Mutiara Sis Al-Jufri. Di tengah suasana yang tenang, di antara para penumpang yang melangkah turun, ada seorang perempuan yang membawa lebih dari sekadar tas perjalanan. Ia membawa rasa lega yang selama berbulan-bulan tertahan.
Namanya Lidia Hilika. Perempuan asal Kelurahan Tamadue, Kecamatan Lore Timur, Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah itu akhirnya kembali menginjak tanah air setelah menghadapi persoalan saat bekerja di Malaysia. Bagi Lidia, kepulangan itu bukan sekadar perjalanan lintas negara. Ia adalah akhir dari hari-hari yang dipenuhi kecemasan, sekaligus awal untuk kembali menata hidup bersama keluarga yang menunggu di rumah.
Di negeri seberang, Lidia menghadapi situasi yang membuatnya dihantui ketidakpastian. Di tengah tuntutan pekerjaan yang terus berjalan, masa berlaku paspornya semakin mendekati akhir. Kekhawatiran akan status keimigrasian dan keselamatan dirinya perlahan menjadi beban yang tidak mudah dipikul seorang diri.
Ketika rasa cemas itu tak lagi bisa ditahan, Lidia memutuskan mencari pertolongan. Pada (8/5/2026), ia menyampaikan pengaduan kepada BP3MI Sulawesi Tengah. Langkah sederhana itu menjadi titik awal dari rangkaian upaya yang kemudian membuka jalan bagi kepulangannya. Laporan tersebut segera ditindaklanjuti. BP3MI Sulawesi Tengah melakukan koordinasi dan menghubungkan Lidia dengan KJRI Penang. Dari sana, proses pendampingan dilakukan untuk membantu menyelesaikan persoalan yang dihadapinya, sekaligus mempersiapkan proses pemulangan ke Indonesia.
Proses itu tidak berlangsung dalam semalam. Ada komunikasi yang harus dibangun, dokumen yang harus diselesaikan, dan berbagai tahapan yang harus dilalui. Namun satu per satu hambatan berhasil diatasi melalui kerja sama berbagai pihak.
Hingga akhirnya, pagi itu tiba.
Pesawat yang membawa Lidia mendarat di Palu. Perjalanan panjang dari Malaysia menuju Indonesia telah selesai. Namun bagi petugas pelindungan pekerja migran, tugas mereka belum berakhir.
Setelah tiba di bandara, Lidia masih harus melanjutkan perjalanan menuju rumah keluarganya di Perumahan Jinggaland, Kelurahan Kalukubula, Kabupaten Sigi. Petugas BP3MI Sulawesi Tengah memastikan seluruh proses berlangsung aman hingga ia benar-benar bertemu dengan orang-orang yang selama ini menantikan kepulangannya.
Mungkin tidak ada sorak-sorai besar yang menyambut saat itu. Tidak ada karangan bunga atau seremoni khusus. Namun, ada sesuatu yang jauh lebih berarti yaitu kesempatan untuk kembali berkumpul bersama keluarga.
Setelah berbulan-bulan berada jauh dari kampung halaman, Lidia akhirnya dapat merasakan kembali hangatnya rumah dan kehadiran orang-orang terdekat.
Koordinator Tim Pelindungan BP3MI Sulawesi Tengah, Maxmillian Lolong, mengatakan bahwa setiap laporan yang masuk dari pekerja migran harus ditangani secara cepat agar hak dan keselamatan mereka tetap terlindungi.
“Setiap pengaduan Pekerja Migran yang masuk harus ditindaklanjuti dengan cepat dan tepat. Kami berupaya memastikan pekerja migran yang menghadapi masalah mendapatkan pendampingan yang diperlukan hingga mereka dapat kembali ke Indonesia dengan aman dan berkumpul kembali bersama keluarganya,” ujarnya.
Bagi Maxmillian, keberhasilan pemulangan Lidia menunjukkan pentingnya sinergi antara pemerintah, perwakilan RI di luar negeri, dan berbagai pihak yang terlibat dalam pelindungan pekerja migran Indonesia.
Kisah Lidia mengingatkan bahwa di balik jutaan pekerja migran Indonesia yang tersebar di berbagai negara, terdapat cerita-cerita manusia yang sarat perjuangan. Ada kerinduan yang dipendam, kecemasan yang disembunyikan, dan harapan yang terus dijaga agar suatu hari dapat pulang dengan selamat.
Pada pagi yang mendung di Palu itu, harapan tersebut akhirnya menemukan jalannya. Seorang anak bangsa kembali ke rumah. Seperti banyak kisah kepulangan lainnya, perjalanan itu berakhir di tempat yang paling dirindukan pelukan keluarga.**(Humas/Sulawesi Tengah).
Komentar
Posting Komentar