PALU, KP2MI (25/9) – Direktur Jenderal Pemberdayaan Kementerian Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (KP2MI), Muh. Fachri, menegaskan pentingnya ketepatan proses seleksi dan verifikasi peserta dalam pelaksanaan Program Peningkatan Kapasitas Calon Pekerja Migran Indonesia (CPMI) untuk mendukung SMK Go Global Tahun 2026. Hal tersebut disampaikannya saat melakukan monitoring pelaksanaan program di Kota Palu, Sulawesi Tengah, pada 25–26 September 2026.
Menurut Dirjen Fachri, peningkatan kapasitas CPMI melalui program tersebut harus memberikan kesempatan yang merata kepada masyarakat. Karena itu, proses seleksi perlu dilakukan secara cermat agar peserta yang telah mengikuti pelatihan pada batch sebelumnya tidak kembali mengikuti pelatihan dengan sektor berbeda, sementara masih terdapat calon peserta lain yang belum memperoleh kesempatan.
“Ketelitian dalam proses seleksi dan verifikasi peserta sangat penting. Jangan sampai peserta yang sudah mengikuti pelatihan pada Batch 1 kembali mengikuti Batch 2 untuk sektor berbeda, sementara masih ada calon peserta lain yang belum mendapatkan kesempatan,” ujar Dirjen Fachri saat mengunjungi SMK Negeri 4 Palu, Jumat (25/9/2026).
Ia juga menjelaskan bahwa Program SMK Go Global merupakan bagian dari program direktif Presiden Prabowo Subianto untuk meningkatkan keterampilan dan daya saing masyarakat Indonesia agar mampu mengakses peluang kerja internasional.
Kesempatan peningkatan kompetensi, kata Dirjen Fachri, tidak terbatas bagi lulusan SMK, tetapi juga dapat menjangkau masyarakat dari berbagai latar belakang pendidikan sepanjang memenuhi persyaratan dan kebutuhan sektor pekerjaan.
Dalam kunjungan tersebut, Dirjen Fachri didampingi Plt. Kepala Balai Pelayanan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (BP3MI) Sulawesi Tengah, Edy Dwi Arianto. Rombongan disambut Kepala SMK Negeri 4 Palu, Yoas M. Arung Lallo, bersama PIC Program SMK Go Global Imansyah dan jajaran terkait.
Sementara itu, Edy Dwi Arianto menyampaikan hasil evaluasi terhadap peserta Batch 1, khususnya CPMI yang telah menyelesaikan pelatihan sektor housekeeping. Berdasarkan pemantauan di lapangan, salah satu kendala yang dihadapi sejumlah peserta adalah keterbatasan biaya untuk melanjutkan proses penempatan ke luar negeri.
“Evaluasi di lapangan menunjukkan masih ada CPMI yang telah menyelesaikan pelatihan, tetapi menghadapi keterbatasan biaya untuk melanjutkan tahapan penempatan. Persoalan ini perlu dicarikan solusi agar peserta yang telah memiliki kompetensi tidak berhenti di tengah proses,” kata Edy.
Menanggapi hal tersebut, Muh. Fachri menyampaikan bahwa kendala pembiayaan akan menjadi perhatian KP2MI untuk ditindaklanjuti. Pihaknya akan mengomunikasikan persoalan tersebut dengan kepala daerah dan pemangku kepentingan terkait guna mengidentifikasi kemungkinan dukungan dan alternatif penyelesaian.
Kepala SMK Negeri 4 Palu, Yoas M. Arung Lallo, menyatakan dukungannya terhadap pelaksanaan Program SMK Go Global, khususnya dalam memberikan wawasan dan keterampilan kepada peserta agar memiliki akses terhadap peluang kerja internasional.
“SMK memiliki peran dalam mempersiapkan lulusan yang tidak hanya memiliki keterampilan sesuai bidangnya, tetapi juga mampu melihat peluang kerja secara lebih luas. Melalui Program SMK Go Global, kami berkomitmen mendukung peserta agar memiliki kompetensi dan kesiapan menghadapi kebutuhan dunia kerja global,” ungkap Yoas.
Monitoring dilanjutkan pada Sabtu (26/9/2026) di Politeknik Kesehatan Kementerian Kesehatan (Poltekkes Kemenkes) Palu. Lembaga pendidikan tersebut menjadi salah satu mitra dalam penguatan kompetensi tenaga kerja kesehatan yang berpeluang bekerja di luar negeri.
Direktur Poltekkes Kemenkes Palu, Nurjaya, menyampaikan bahwa peluang kerja internasional bagi tenaga kesehatan harus diikuti dengan kesiapan kompetensi, kemampuan bahasa, dan sikap profesional, serta pemahaman terhadap standar dan persyaratan negara tujuan.
“Peluang kerja bagi tenaga kesehatan di luar negeri harus diikuti dengan kesiapan kompetensi, kemampuan bahasa, sikap profesional, serta pemahaman terhadap standar dan persyaratan negara tujuan. Karena itu, sinergi antara lembaga pendidikan dan pemerintah menjadi penting dalam menyiapkan peserta,” ujar Nurjaya.
Dalam rangkaian monitoring tersebut, peserta juga mendapatkan penjelasan mengenai tahapan yang perlu dipersiapkan setelah menyelesaikan pelatihan. Selain keterampilan teknis, CPMI perlu mempersiapkan dokumen, meningkatkan kemampuan bahasa, mengikuti proses rekrutmen atau pencocokan dengan kebutuhan pemberi kerja (job matching), serta memenuhi seluruh tahapan penempatan sesuai ketentuan yang berlaku.
Melalui monitoring ini, KP2MI bersama BP3MI Sulawesi Tengah dan mitra pendidikan melakukan evaluasi terhadap pelaksanaan program, mulai dari proses seleksi, peningkatan kompetensi, hingga kendala yang dihadapi peserta dalam melanjutkan proses penempatan.
Kolaborasi tersebut diharapkan dapat memastikan Program SMK Go Global tidak hanya memberikan pelatihan, tetapi juga memperkuat kesiapan CPMI dalam mengakses peluang kerja luar negeri secara aman, terarah, dan sesuai prosedur. *(Humas/BP3MI Sulawesi Tengah).
Komentar
Posting Komentar