BP3MI Sulawesi Tengah dan BBPVP Makassar melalui Satpel PVP Palu Kolaborasikan Pelatihan TMT Batch 4 Anyaman Rotan dan Budidaya Jamur

 


Palu - KP2MI (19/10) - Balai Pelayanan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (BP3MI) Sulawesi Tengah berkolaborasi dengan Balai Besar Pelatihan Vokasi dan Produktivitas (BBPVP) Makassar melalui Satuan Pelayanan (Satpel) PVP Palu menyelenggarakan pelatihan vokasi Tailor Made Training (TMT) Batch 4 bagi Purna Pekerja Migran Indonesia dan keluarganya. Program tersebut dilaksanakan melalui dua pelatihan, yakni pelatihan anyaman rotan di Kelurahan Kayumalue Kota Palu dan pelatihan budidaya jamur di Desa Migran Emas Langaleso, Kabupaten Sigi, Senin (19/10/2026).

Kedua kegiatan ini merupakan bagian dari upaya dalam meningkatkan kompetensi dan kemandirian ekonomi Purna Pekerja Migran Indonesia beserta keluarganya melalui pengembangan keterampilan berbasis potensi lokal. Setiap program tersebut diikuti oleh 16 peserta yang merupakan Purna Pekerja Migran Indonesia dan keluarga Pekerja Migran Indonesia dalam pendampingan BP3MI Sulawesi Tengah.

Pelatihan anyaman rotan di Kelurahan Kayumalue mencakup materi teori dan praktik, mulai dari penerapan keselamatan dan kesehatan kerja (K3), pengenalan karakteristik serta praperlakuan bahan rotan, teknik dasar menganyam, hingga pengembangan variasi motif untuk menghasilkan produk kerajinan yang memiliki nilai jual, seperti tas, keranjang, dan suvenir. Peserta juga dibekali materi penyelesaian akhir produk, pengemasan, perhitungan harga pokok produksi (HPP), serta pemasaran digital.

Dalam kegiatan tersebut, perwakilan Kepala Satpel PVP Palu, Hendra, menyampaikan bahwa program TMT dirancang berdasarkan kebutuhan dan potensi daerah agar keterampilan yang diperoleh peserta dapat dikembangkan menjadi peluang usaha produktif.

“Pelatihan TMT dirancang sesuai kebutuhan dan potensi lokal. Melalui pelatihan anyaman rotan ini, kami berharap peserta mampu mengembangkan keterampilan vokasi, menghasilkan produk yang bernilai tambah, serta memiliki bekal untuk membangun usaha secara mandiri,” ujar Hendra.

Pada kesempatan yang sama, Ketua Tim Pelindungan dan Pemberdayaan BP3MI Sulawesi Tengah, Merli Nancy Riga juga menekankan pentingnya sinergi lintas kementerian dan lembaga dalam memberikan pelindungan sekaligus pemberdayaan ekonomi kepada Pekerja Migran Indonesia dan keluarganya.

“Kolaborasi antara Kementerian Pelindungan Pekerja Migran Indonesia dan Kementerian Ketenagakerjaan menjadi bagian penting dalam menghadirkan pemberdayaan yang berkelanjutan. Kami berharap keterampilan yang diperoleh melalui pelatihan ini dapat menjadi modal bagi Purna Pekerja Migran Indonesia dan keluarganya untuk mengembangkan usaha berbasis potensi lokal, meningkatkan kesejahteraan keluarga, serta mengurangi kerentanan ekonomi di daerah asal,” ungkap Merli.

Sementara itu, di Desa Migran Emas Langaleso, Kabupaten Sigi, BP3MI Sulawesi Tengah bersama BBPVP Makassar melalui Satpel PVP Palu juga membuka kegiatan yang sama. Namun, bidang pelatihannya berbeda, yakni pelatihan budidaya jamur. Kegiatan tersebut juga diikuti oleh 16 peserta dari kalangan Purna Pekerja Migran Indonesia dan keluarga Pekerja Migran Indonesia yang menjadi sasaran program pemberdayaan BP3MI Sulawesi Tengah.

Kedua pelatihan tersebut berlangsung selama 14 hari. Berbeda dengan pelatihan anyaman rotan, pelatihan ini berfokus pada metode teori dan praktik yang didasari modul pelatihan serta standar produk yang telah ditetapkan. Peserta juga mendapatkan pendampingan dari Djoko Sampoerno, instruktur sekaligus pemilik PT Gemala Alsania Grup yang bergerak di bidang budidaya dan pengolahan jamur tiram.

Kegiatan ini diawali dengan sambutan dari perwakilan Kepala Satpel PVP Palu, Ferry. Ia menyampaikan bahwa pelatihan vokasi diharapkan tidak hanya meningkatkan keterampilan teknis peserta, tetapi juga mendorong pemanfaatan keterampilan tersebut sebagai peluang usaha yang sesuai dengan potensi dan kebutuhan masyarakat.

“Melalui pelatihan budidaya jamur ini, kami berharap peserta dapat menguasai keterampilan yang aplikatif dan mengembangkannya menjadi kegiatan usaha produktif. Dengan dukungan pelatihan dan pendampingan, keterampilan tersebut diharapkan dapat membuka peluang ekonomi bagi Purna Pekerja Migran Indonesia, keluarga Pekerja Migran Indonesia, dan masyarakat di sekitarnya,” ujar Ferry.

Selanjutnya, Plt. Kepala BP3MI Sulawesi Tengah, Edy Dwi Arianto juga turut menegaskan pentingnya kolaborasi antar lembaga dalam memperluas akses pemberdayaan ekonomi bagi Purna Pekerja Migran Indonesia dan keluarganya.

“Sinergi antara BP3MI Sulawesi Tengah, BBPVP Makassar melalui Satpel PVP Palu, pemerintah desa, dan para pemangku kepentingan merupakan langkah penting untuk memperkuat pemberdayaan Purna Pekerja Migran Indonesia dan keluarganya. Kami berharap pelatihan ini dapat menjadi bekal untuk mengembangkan usaha secara mandiri, meningkatkan kesejahteraan keluarga, dan memberikan manfaat bagi masyarakat sekitar,” ujar Edy.

Kolaborasi kedua program pelatihan ini diharapkan mampu memperkuat sinergi pemerintah dalam membangun pemberdayaan ekonomi yang terintegrasi, mulai dari peningkatan keterampilan hingga pengembangan usaha. Dengan memanfaatkan potensi lokal, baik melalui kerajinan anyaman rotan maupun budidaya dan pengolahan jamur, Purna Pekerja Migran Indonesia dan keluarganya diharapkan memiliki kesempatan lebih besar untuk membangun kemandirian ekonomi secara berkelanjutan.

BP3MI Sulawesi Tengah berkomitmen untuk terus memperkuat kerja sama lintas sektor dalam mendukung peningkatan kompetensi, pengembangan usaha, dan kesejahteraan Purna Pekerja Migran Indonesia beserta keluarganya di Sulawesi Tengah.

Selain perwakilan dari Kepala Satpel PVP Palu dan Plt. Kepala BP3MI Sulawesi Tengah, Nurlin Haruna selaku Kepala Desa Langaleso juga menyambut baik pelaksanaan pelatihan tersebut dan berharap keterampilan yang diberikan dapat menjadi bekal bagi Purna Pekerja Migran Indonesia dan keluarganya untuk mengembangkan usaha secara mandiri di desa.

“Kami menyambut baik pelaksanaan pelatihan budidaya jamur di Desa Langaleso karena kegiatan ini memberikan kesempatan bagi Purna Pekerja Migran Indonesia dan keluarganya untuk meningkatkan keterampilan serta mengembangkan peluang usaha di daerah sendiri. Kami berharap ilmu yang diperoleh selama pelatihan dapat diterapkan secara berkelanjutan, sehingga mampu mendorong kemandirian ekonomi keluarga, membuka peluang usaha, dan memberikan manfaat bagi masyarakat Desa Langaleso,” ujar Nurlin.

Kolaborasi kedua program pelatihan ini diharapkan mampu memperkuat sinergi pemerintah dalam membangun pemberdayaan ekonomi yang terintegrasi, mulai dari peningkatan keterampilan hingga pengembangan usaha. Dengan memanfaatkan potensi lokal, baik melalui kerajinan anyaman rotan maupun budidaya dan pengolahan jamur, Purna Pekerja Migran Indonesia dan keluarganya diharapkan memiliki kesempatan lebih besar untuk membangun kemandirian ekonomi secara berkelanjutan.

BP3MI Sulawesi Tengah berkomitmen untuk terus memperkuat kerja sama lintas sektor dalam mendukung peningkatan kompetensi, pengembangan usaha, dan kesejahteraan Purna Pekerja Migran Indonesia beserta keluarganya di Sulawesi Tengah. ** (Humas/BP3MI Sulawesi Tengah)

Komentar