BP3MI Sulawesi Tengah Matangkan Batch II SMK Go Global, Fokus Spa Therapist, Welder, dan ABK-Fisherman

 


Palu, KP2MI (2/10) - Balai Pelayanan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (BP3MI) Sulawesi Tengah mematangkan persiapan pelaksanaan Program Peningkatan Kapasitas bagi Calon Pekerja Migran Indonesia (CPMI) Tahun 2026 Batch II melalui rapat pembahasan bersama lembaga penyelenggara pelatihan dan perwakilan satuan pendidikan di Palu, Kamis (1/10/2026). Rapat tersebut menjadi bagian dari upaya memastikan seluruh tahapan program siap dilaksanakan secara terpadu, mulai dari administrasi, kesiapan peserta dan lembaga, pelatihan, sertifikasi, hingga keterhubungan dengan kebutuhan dan proyeksi penempatan PMI di luar negeri.

Rapat dipimpin oleh Ketua Tim Penempatan BP3MI Sulawesi Tengah sekaligus PIC Program SMK Go Global, Alberth Imanuel Tangdialla, dan dihadiri oleh Plt. Kepala BP3MI Sulawesi Tengah, Edy Dwi Arianto, Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Program SMK Go Global, Maxmillian A. Y. Lolong, staf BP3MI Sulawesi Tengah, serta para penanggung jawab dari masing-masing lembaga penyelenggara pelatihan. Pembahasan difokuskan pada kesiapan pelaksanaan Batch II yang mencakup pelatihan dan sertifikasi Spa Therapist, Welder, serta sertifikasi teknis ABK-Fisherman.

Plt. Kepala BP3MI Sulawesi Tengah, Edy Dwi Arianto, menegaskan bahwa pelaksanaan program peningkatan kapasitas harus dipersiapkan secara menyeluruh agar peserta tidak hanya mendapatkan keterampilan, tetapi juga memiliki kesiapan untuk memasuki pasar kerja luar negeri secara profesional.

“Program peningkatan kapasitas CPMI harus dipersiapkan secara menyeluruh dan terintegrasi. Mulai dari proses seleksi, pelatihan, sertifikasi, pembekalan, sampai dengan keterhubungan terhadap kebutuhan penempatan harus menjadi satu kesatuan. Kita ingin peserta yang mengikuti program ini benar-benar memiliki kompetensi dan kesiapan untuk bekerja di luar negeri sesuai dengan bidang yang dibutuhkan,” ujar Edy Dwi Arianto. 

Menurutnya, keterhubungan antara program pelatihan dengan kebutuhan penempatan menjadi hal penting agar peningkatan kompetensi yang diberikan dapat memberikan manfaat nyata bagi peserta. Karena itu, sinergi antara BP3MI, lembaga penyelenggara, satuan pendidikan, dan Perusahaan Penempatan Pekerja Migran Indonesia (P3MI) perlu terus diperkuat dalam setiap tahapan program.

Ketua Tim Penempatan BP3MI Sulawesi Tengah, Alberth Imanuel Tangdialla, menambahkan bahwa Program SMK Go Global tidak hanya berorientasi pada peningkatan kompetensi, tetapi juga diarahkan untuk menjawab kebutuhan dan proyeksi penempatan PMI di luar negeri. 

“Program peningkatan kapasitas ini tidak hanya berorientasi pada peningkatan kompetensi peserta, tetapi juga harus terhubung dengan kebutuhan dan proyeksi penempatan PMI di luar negeri. Karena itu, koordinasi antara BP3MI, lembaga penyelenggara, dan mitra penempatan perlu terus diperkuat agar kompetensi yang diberikan benar-benar sesuai dengan kebutuhan pekerjaan,” ujar Alberth.

Dalam rapat tersebut, PPK Program SMK Go Global, Maxmillian A. Y. Lolong menekankan pentingnya memastikan seluruh persyaratan administrasi dan dokumen program terpenuhi sebelum pelaksanaan dimulai. Kesiapan tersebut mencakup legalitas dan hasil verifikasi lembaga, proposal, RAB, dokumen kerja sama atau pengadaan, serta berbagai dokumen pendukung lainnya yang diperlukan dalam pelaksanaan program. 

“Sebelum program dilaksanakan, seluruh dokumen dan persyaratan harus dipastikan lengkap dan sesuai ketentuan. Verifikasi proposal, dokumen kerja sama, kesiapan peserta, hingga aspek teknis pelatihan merupakan bagian dari final readiness yang harus dipastikan agar pelaksanaan program dapat berjalan tertib, akuntabel, dan sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan,” jelas Maxmillian.

Selain aspek administrasi, masing-masing lembaga penyelenggara juga diminta memastikan kesiapan kurikulum, silabus, jadwal pelatihan, instruktur, asesor atau LSP, sarana dan prasarana, alat serta bahan praktik, hingga sistem administrasi kelas. Untuk pelatihan Spa Therapist, perhatian diarahkan pada kesiapan ruang praktik, alat dan bahan, alat pelindung diri (APD), serta standar keselamatan. Sementara untuk Welder, kesiapan workshop, mesin las, material praktik, APD, dan penerapan keselamatan dan kesehatan kerja (K3) menjadi bagian penting yang harus dipenuhi.

Pada sisi peserta, BP3MI bersama lembaga penyelenggara akan melakukan verifikasi terhadap kelengkapan dokumen, antara lain KTP, KK, JKN, surat keterangan sehat, ijazah terakhir, surat komitmen mengikuti program, pernyataan bersedia bekerja ke luar negeri, izin orang tua/wali atau suami/istri, serta dokumen pendidikan, keterampilan, bahasa, atau pengalaman sesuai bidang pelatihan. Setelah proses verifikasi dan seleksi selesai, peserta akan ditetapkan melalui mekanisme yang telah ditentukan sebelum mengikuti pembekalan dan pelatihan.

Salah satu agenda yang mendapat perhatian khusus dalam rapat adalah proyeksi penempatan ABK-Fisherman melalui SMK Negeri 7 Palu. Perwakilan SMK Negeri 7 Palu, Jaya, menyampaikan bahwa pihaknya terus mempersiapkan peserta agar memiliki kompetensi yang sesuai dengan kebutuhan penempatan melalui mitra P3MI. 

“Kami dari SMK Negeri 7 Palu siap mendukung program ini, khususnya dalam menyiapkan peserta ABK-Fisherman agar memiliki kompetensi teknis dan sertifikasi yang sesuai dengan kebutuhan penempatan. Kami berharap melalui koordinasi bersama BP3MI dan P3MI, peserta mendapatkan gambaran yang jelas mengenai peluang kerja sekaligus persyaratan yang harus dipenuhi untuk bekerja di luar negeri,” ujar Jaya. 

Dalam proyeksi tersebut, terdapat 3 P3MI yang telah ditunjuk untuk mendukung peluang penempatan ABK-Fisherman, yaitu PT Banyu Sewu untuk alat tangkap Longline dengan negara penempatan Jepang dan bantuan biaya penempatan secara penuh, PT SAMI untuk alat tangkap Longline dengan negara penempatan Taiwan, serta PT Abadi Mandiri Internasional untuk alat tangkap Cumi/Squid dengan negara penempatan Taiwan dan wilayah pelayaran hingga Argentina.

Sementara itu, Abdul Hafid selaku perwakilan SMK Negeri 1 Palu menyampaikan kesiapan pihaknya dalam mendukung pelaksanaan pelatihan yang berorientasi pada kompetensi dan sertifikasi, khususnya untuk memastikan peserta tidak hanya mengikuti pelatihan, tetapi juga memiliki kesiapan untuk memasuki dunia kerja. 

“Kami siap mendukung pelaksanaan program dengan memastikan peserta memperoleh pelatihan yang sesuai dengan kompetensi yang dibutuhkan. Kesiapan peserta tidak hanya dilihat dari keikutsertaan dalam pelatihan, tetapi juga dari penguasaan keterampilan, kedisiplinan, kelengkapan administrasi, dan kesiapan untuk mengikuti proses sertifikasi,” ungkap Abdul Hafid.

Khusus program ABK-Fisherman, peningkatan kapasitas akan dilaksanakan melalui pelatihan teknis selama 150 jam pelajaran (JP) dalam 15 hari, yang terdiri atas 10 hari praktik dan 5 hari sertifikasi. Skema tersebut diarahkan untuk memastikan peserta memiliki kompetensi teknis yang relevan dengan kebutuhan pekerjaan serta memenuhi persyaratan yang dibutuhkan dalam proses penempatan. Untuk memastikan kesiapan menyeluruh, peserta yang telah ditetapkan nantinya akan memperoleh pembekalan atau info session mengenai program, administrasi, hak dan kewajiban, serta komitmen mengikuti seluruh rangkaian pelatihan. Sebelum pelaksanaan hari pertama, BP3MI dan lembaga penyelenggara juga akan memastikan daftar peserta final, PIC masing-masing pihak, jadwal pelatihan dan asesmen, instruktur, sarana-prasarana, serta seluruh dokumen pendukung telah tersedia.

Melalui rapat tersebut, BP3MI Sulawesi Tengah menegaskan bahwa Program Peningkatan Kapasitas CPMI Tahun 2026 Batch II dipersiapkan secara terintegrasi, mulai dari seleksi dan penetapan peserta, kesiapan lembaga dan administrasi, pelaksanaan pelatihan, sertifikasi, hingga pemutakhiran data kebutuhan tenaga kerja dan proyeksi penempatan.

Ke depan, BP3MI Sulawesi Tengah bersama lembaga penyelenggara, SMK, dan P3MI akan memperkuat koordinasi untuk memastikan lulusan program memiliki kompetensi yang sesuai dengan kebutuhan pasar kerja luar negeri. Khusus ABK-Fisherman, sinergi antara BP3MI, SMK Negeri 7 Palu, lembaga penyelenggara, dan tiga P3MI akan terus ditindaklanjuti guna memperjelas kebutuhan peserta, skema pelatihan, sertifikasi, serta peluang penempatan bagi CPMI.* (Humas/BP3MI Sulawesi Tengah)

Komentar